Selasa, 27 Agustus 2013

Harga Kedelai Naik Lagi

Seperti sebelumnya jika nilai rupiah melemah terhadap dolar maka harga harga barang impor akan terdongkrak naik. Bahkan juga termasuk kedelai yang mungkin kita masih pandang remeh. Walaupun ternyata kebutuhan kedelai masyarakat Indonesia sangat tinggi. Mungkin karena masyarakat kita suka makan tempe, tahu. Kenapa kedelai harus impor?
Cerita sedikit pengalaman bapak saya yang pernah membuat dan jualan tempe. Yup ayah dulu pernah berjualan tempe bahkan membuat sendiri. Terutama waktu saya masih kuliah,. Karena kebetulan ketika kuliah ayah sudah memasuki masa pensiun sementara biaya sekolah termasuk tinggi waktu itu (1996-1998). Kedelai impor biasanya didatangkan dari Amerika, Kanada atau dari cina. Dengan masing masing kedelai punya karakter sendiri. Seingat saya dulu waktu masih membantu buat tempe. Kedelai Kanada atau Amerika itu cenderung bersih tidak banyak sampah ranting dll. Kulitnya pun mulus. Tetapi kedelai ini biasanya jika direndam tidak mekar terlalu besar
Sementara kedelai dari Cina cenderung lebih kotor karena banyak tercampur ranting ranting serta kadang banyak juga dijumpai campuran jagung. Tetapi jika direndam kedelai ini bisa hampir 2 kali lipat.
Menurut ayah inilah alasan mengapa lebih disukai kedelai impor karena biji biji cenderung lebih besar daripada kedelai lokal. Sehingga ketika dibuat tempe akan menghasilkan tempe atau tahu yang lebih banyak. Tapi menurut beliau lagi sebenarnya dari segi rasa lebih enak kedelai lokal.
Yang dibingungkan ayah saya sekarang ini kenapa setiap harga kedelai naik orang selalu ribut? Bukankah dari dulu harga kedelai memang naik turun. Saya sendiri ingat bagaimana bingungnya ayah ketika tahun 1998-1999 dolar menyentuh Rp 15000 tapi kita waktu tidak mengeluh. Bahkan untuk menaikkan harga pun kita tidak tega. Sebagai komprominya ayah memilih untuk mengurangi berat tempe yang dibuat, dengan menjelaskan ke tiap tiap pelanggan kami waktu itu. Sebenarnya sih masih untung cuma memang banyak berkurang. Dan orang orang sekarang lebih senang ributnya bukan main..

Sabtu, 24 Agustus 2013

Surat Ayah ke Putrinya (pemimpin ikhwan Mesir)

Surat seorang ayah untuk putrinya yang tewas ditembak di Mesir membuat PM Turki Recep Tayyip Erdogan menangis. Ayah itu adalah Mohamed el-Beltaji, petinggi Ikhwanul Muslimin, yang kehilangan putrinya, Asma Beltaji, 17 tahun.
Asma jadi korban kekejaman penembak jitu militer Mesir dalam membubarkan demonstrasi Ikhwanul Muslimin, siang hari, 14 Agustus lalu. Saat itu dia bersama ibunya tengah membantu para demonstran yang terluka di Kairo.
Ini terjemahan dari isi surat yang ditulis Beltaji tersebut:

Putriku tercinta dan seorang guru yang terhormat, Asma al-Berltaji. Aku tak ingin mengucapkan selama tinggal padamu. Aku ingin mengatakan, suatu saat nanti kita akan berjumpa lagi.

Kau telah hidup dengan kepala yang mendongak, memberontak terhadap tirani dan belenggu dan mencintai kebebasan. Kau telah hidup sebagai pencari ketenangan dari cakrawala baru untuk membangun negeri ini menjadi tempat yang tepat untuk masyarakat.

Kau tidak pernah menyibukkan dirimu dengan hal-hal yang menyibukkan orang-orang seusiamu. Walaupun pendidikan tradisional tidak mampu memenuhi aspirasi dan minatmu, kau selalu menjadi juara di kelas.

Aku tidak pernah mendapat cukup waktu berharga untuk bersamamu di kehidupan yang singkat ini. Terutama karena waktu yang aku miliki tidak memungkinkan bersama denganmu.
Terakhir kali kita duduk bersama di alun-alun Rabiah al Adawiyah, kau berkata Bahkan ketika bersama kami, kau selalu sibuk' dan aku katakan padamu 'Sepertinya hidup ini tidak akan pernah cukup untuk kita menemani satu sama lain, jadi aku berdoa pada Allah semoga kita akan selalu bersama di surga nanti.'

Dua hari sebelum kau dibunuh, aku melihatmu di mimpiku, mengenakan pakaian pengantin warna putih dan kau sangat cantik. Ketika kau dibaringkan di sisiku, aku bertanya "apakah ini malam pengantinmu?" Kau menjawab, "Ini siang hari, bukan malam".

Ketika berita kau dibunuh pada malam Rabu itu datang, aku mengerti apa maksudmu dalam mimpi itu dan aku tahu Allah telah menerima jiwamu sebagai seorang syahidah. Kau memperkuat keyakinanku bahwa kita berada pada kebenaran dan musuh kita di sisi yang salah.

Sangat menyakitkanku tidak bisa hadir mengucapkan perpisahan terakhir dan melihatmu untuk yang terakhir kalinya; tidak mencium keningmu; dan tidak mengimami shalat jenazahmu.

Aku bersumpah demi Allah, sayangku, aku tidak takut kehilangan nyawa atau di penjara dengan tidak adil, tapi aku ingin membawa pesan yang engkau rela mati karenanya, yaitu untuk menuntaskan revolusi, untuk menang, dan meraih tujuan.

Jiwamu dicabut dengan kepalamu mendongak tinggi melawan tirani. Peluru pengkhianat itu mengenai dadamu. Dengan niat yang tulus dan jiwa yang suci. Aku yakin kau jujur pada Allah dan Dia memilihmu di antara kami dan memuliakanmu dengan pengorbanan.

Akhirnya, putriku tercinta dan seorang guru yang terhormat:

Aku tidak ingin mengucapkan selamat tinggal, tapi sampai jumpa. Kita akan segera bertemu dengan Rasulullah dan sahabat-sahabatnya di Surga, tempat dimana keinginan kita untuk menghabiskan waktu satu sama lain dan bersama orang-orang tercinta kita akan dikabulkan.

Senin, 19 Agustus 2013

Halal Ala Indonesia

Teringat pengalaman saya beberapa tahun lalu ketika baru pindah ke rumah kontrakan yang ditempati sekarang. Capek setelah angkat angkat saya menawarkan untuk beli rujak ke istri. Kemudian mulailah berkeliling komplek perumahan serta perkampungan disekitarnya. Dapat. Ketika si Ibu penjual rujak hampir selesai sambil bicara pelan beliau menawarkan "mas mau pakai item-item?" sambil memperlihatkan piring ke saya. Dan saya terdiam Astaghfirullah itu kan saren/dideh (sejenis darah hewan yang ditampung ketika disembelih kemudian dikukus kalau di skotlandia dikenal dengan istilah black pudding). Gagallah makan rujak siang itu karena saya harus buang ke tempat sampah.
Lain hari beberapa tahun sebelum menikah dalam perjalanan pulang dari rumah calon istri setelah seharian mengurus surat kelengkapan pernikahan, dalam perjalanan dengan bus Sumber Kencono duduk bersebelahan dengan sopir truk. Beliau biasa membawa ayam hidup dari peternakan ke pasar-pasar di Jakarta. Dalam perjalanan itu beliau bercerita jika musim kemarau pasti banyak ayam yang mati karena jauh jarak yang ditempuh dari jateng ke Jakarta. Saya bertanya ayam yang mati terus dibawa kemana? Kalau di Jakarta susah dijual mas, jadi saya balik lagi biasanya ada pengepul yang mau nampung. Lumayan seekornya 3000. Makanya saya nggak mau makan ayam di sembarang warung mas. Karena saya tahu asalnya. Lagi lagi..
Sekali waktu seorang teman saya kerja di daerah gresik juga pernah bercerita. Di Surabaya dulu ada penjual baso terkenal. Kebetulan yang berjualan itu adalah paman dari teman saya. Dia bilang bahwa sebagian daging yang dipakai adalah daging celeng. Tapi untungnya pamannya sudah meninggal dan warung basonya sudah tutup
Coba sekali waktu kalau kita jalan-jalan perhatikan para penjual nasi goreng atau seafood. Meskipun di kain mereka tulis 100% halal biasanya mereka masih pakai arak masak atau ang ciu atau sejenisnya. Biasanya dengan alasan yang macam macam. Dan itu jelas jelas haram.
Kenapa saya menulis begini? Beberapa hari yang lalu saya membaca blog dari www.rinaldimunir.wordpress.com disitu ada pengunjung blog dari Malaysia yang berkomentar terheran-heran dengan perilaku makan orang Indonesia yang kadang kurang aware dengan halal-haramnya masakan. Padahal mayoritas penduduk negeri ini adalah muslim yang seharusnya sangat selektif dengan apa yang kita makan, karena kita percaya apa yang kita makan akan mempengaruhi keimanan kita.
Coba kita perhatikan gerai-gerai makan dari luar utamanya dari negeri asia timur yang sekarang lagi ngetren atau gerai-gerai roti yang antrinya berderet-deret. Tidak jarang yang ikut antri adalah ibu-ibu atau remaja berkerudung seakan-akan mereka tidak peduli apakah itu halal atau tidak. Padahal jika kita perhatikan mereka belum mempunyai sertifikat halal dari MUI. Jika kita tahu proses serta bahannya sungguh sangat banyak yang masih belum masuk kriteria halal. Sungguh sangat disayangkan.

Minggu, 18 Agustus 2013

Jujur Tidak Dianjurkan

Untuk ditularkan ke orang yang memang tidak pengen jujur. Mbulet toh.. Yah begitulah yang saya alami beberapa hari ini. Gara-gara menganjurkan teman untuk jujur dalam daftar ulang anaknya di universitas. Dan akibat kejujuran akhirnya kena UKT (uang kuliah tunggal) yang paling mahal 9.500.000. Ya betul sembilan juta lima ratus ribu per semester.
Lha terus hubungannya dengan saya apa?? Teman saya merasa jengkel karena mengikuti saran saya untuk jujur. Karena sebenarnya si anak sendiri sejak awal sudah mengusulkan untuk merekayasa data supaya dapat UKT yang lebih rendah. Dan akibatnya sejak kejadian itu teman saya jadi sinis bahkan tidak menyapa beberapa hari ini. Nasib nasib.
Padahal bagi saya untuk memulai sebuah kebaikan haruslah dengan awal yang baik pula. Tapi ya sudahlah..