Seperti sebelumnya jika nilai rupiah melemah terhadap dolar maka harga harga barang impor akan terdongkrak naik. Bahkan juga termasuk kedelai yang mungkin kita masih pandang remeh. Walaupun ternyata kebutuhan kedelai masyarakat Indonesia sangat tinggi. Mungkin karena masyarakat kita suka makan tempe, tahu. Kenapa kedelai harus impor?
Cerita sedikit pengalaman bapak saya yang pernah membuat dan jualan tempe. Yup ayah dulu pernah berjualan tempe bahkan membuat sendiri. Terutama waktu saya masih kuliah,. Karena kebetulan ketika kuliah ayah sudah memasuki masa pensiun sementara biaya sekolah termasuk tinggi waktu itu (1996-1998). Kedelai impor biasanya didatangkan dari Amerika, Kanada atau dari cina. Dengan masing masing kedelai punya karakter sendiri. Seingat saya dulu waktu masih membantu buat tempe. Kedelai Kanada atau Amerika itu cenderung bersih tidak banyak sampah ranting dll. Kulitnya pun mulus. Tetapi kedelai ini biasanya jika direndam tidak mekar terlalu besar
Sementara kedelai dari Cina cenderung lebih kotor karena banyak tercampur ranting ranting serta kadang banyak juga dijumpai campuran jagung. Tetapi jika direndam kedelai ini bisa hampir 2 kali lipat.
Menurut ayah inilah alasan mengapa lebih disukai kedelai impor karena biji biji cenderung lebih besar daripada kedelai lokal. Sehingga ketika dibuat tempe akan menghasilkan tempe atau tahu yang lebih banyak. Tapi menurut beliau lagi sebenarnya dari segi rasa lebih enak kedelai lokal.
Yang dibingungkan ayah saya sekarang ini kenapa setiap harga kedelai naik orang selalu ribut? Bukankah dari dulu harga kedelai memang naik turun. Saya sendiri ingat bagaimana bingungnya ayah ketika tahun 1998-1999 dolar menyentuh Rp 15000 tapi kita waktu tidak mengeluh. Bahkan untuk menaikkan harga pun kita tidak tega. Sebagai komprominya ayah memilih untuk mengurangi berat tempe yang dibuat, dengan menjelaskan ke tiap tiap pelanggan kami waktu itu. Sebenarnya sih masih untung cuma memang banyak berkurang. Dan orang orang sekarang lebih senang ributnya bukan main..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar