Teringat pengalaman saya beberapa tahun lalu ketika baru pindah ke rumah kontrakan yang ditempati sekarang. Capek setelah angkat angkat saya menawarkan untuk beli rujak ke istri. Kemudian mulailah berkeliling komplek perumahan serta perkampungan disekitarnya. Dapat. Ketika si Ibu penjual rujak hampir selesai sambil bicara pelan beliau menawarkan "mas mau pakai item-item?" sambil memperlihatkan piring ke saya. Dan saya terdiam Astaghfirullah itu kan saren/dideh (sejenis darah hewan yang ditampung ketika disembelih kemudian dikukus kalau di skotlandia dikenal dengan istilah black pudding). Gagallah makan rujak siang itu karena saya harus buang ke tempat sampah.
Lain hari beberapa tahun sebelum menikah dalam perjalanan pulang dari rumah calon istri setelah seharian mengurus surat kelengkapan pernikahan, dalam perjalanan dengan bus Sumber Kencono duduk bersebelahan dengan sopir truk. Beliau biasa membawa ayam hidup dari peternakan ke pasar-pasar di Jakarta. Dalam perjalanan itu beliau bercerita jika musim kemarau pasti banyak ayam yang mati karena jauh jarak yang ditempuh dari jateng ke Jakarta. Saya bertanya ayam yang mati terus dibawa kemana? Kalau di Jakarta susah dijual mas, jadi saya balik lagi biasanya ada pengepul yang mau nampung. Lumayan seekornya 3000. Makanya saya nggak mau makan ayam di sembarang warung mas. Karena saya tahu asalnya. Lagi lagi..
Sekali waktu seorang teman saya kerja di daerah gresik juga pernah bercerita. Di Surabaya dulu ada penjual baso terkenal. Kebetulan yang berjualan itu adalah paman dari teman saya. Dia bilang bahwa sebagian daging yang dipakai adalah daging celeng. Tapi untungnya pamannya sudah meninggal dan warung basonya sudah tutup
Coba sekali waktu kalau kita jalan-jalan perhatikan para penjual nasi goreng atau seafood. Meskipun di kain mereka tulis 100% halal biasanya mereka masih pakai arak masak atau ang ciu atau sejenisnya. Biasanya dengan alasan yang macam macam. Dan itu jelas jelas haram.
Kenapa saya menulis begini? Beberapa hari yang lalu saya membaca blog dari www.rinaldimunir.wordpress.com disitu ada pengunjung blog dari Malaysia yang berkomentar terheran-heran dengan perilaku makan orang Indonesia yang kadang kurang aware dengan halal-haramnya masakan. Padahal mayoritas penduduk negeri ini adalah muslim yang seharusnya sangat selektif dengan apa yang kita makan, karena kita percaya apa yang kita makan akan mempengaruhi keimanan kita.
Coba kita perhatikan gerai-gerai makan dari luar utamanya dari negeri asia timur yang sekarang lagi ngetren atau gerai-gerai roti yang antrinya berderet-deret. Tidak jarang yang ikut antri adalah ibu-ibu atau remaja berkerudung seakan-akan mereka tidak peduli apakah itu halal atau tidak. Padahal jika kita perhatikan mereka belum mempunyai sertifikat halal dari MUI. Jika kita tahu proses serta bahannya sungguh sangat banyak yang masih belum masuk kriteria halal. Sungguh sangat disayangkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar